Penyelenggaraan Karapan Sapi Mendua
Pamekasan | Jatimnet - Terkait dualism epnyelenggaraan kerapan Sapi di pulau Madura, yaitu antara kelompok yang masih menggunakan pole kekerasan (Rekeng), dan tidak menggunakan pola kekerasan (Pakkopak), akhirnya Bupati Pamekasan Achmad Syafii angkat bicara.
Terkait hal itu, sudah ada kesepakatan antara pemerintahan empat Kabupaten Di Madura dengan Pemerintah Jawa Timur, agar melaksanakan karapan sapi tanpa kekerasan,” kata Achad Syafii kepada sejumlah wartawan sela sela Setelah melepas Calon Jemaah Haji asal Pamekasan.
Tetapi mantan anggota DPR RI itu juga mengakui, kebijakan itu masih belum diterima oleh seluruh pemilik sapi (pengerap), sehingga komunikasi-komunikasi terus dilakukan oleh pihaknya dengan berbagai pihak.
Tetapi masih ada aspirasi-aspirasi, dan masih kita komunikasikan, dan aspirasi yang berkembang ini perlu juga kita dengarkan dan mencarikan jalan terbaik,” katanya.
Hal itu dilakukan, agar dualisme penyelenggaraan karapan sapi di pulau garam itu tidak terjadi lagi. Hal itu perlu kita lakulkan, agar tujuan kita untuk menggelar karapan sapi tanpa kekerasan bisa terwujud, tetapi juga ada kebersamaan dari semuanya, itu yang kita harapkan,” harapnya.
Sebelumnya, Ketua Paguyuban pemilik sapi karapan Madura yang tergabung dalam Jet Matic Foundation (JMF), Mohammad Zahid mengatakan, pihaknya akan tetap menyelenggarakan karapan sapi rekeng, sebab hal itu sudah disepakati oleh seluruh pengerap se Madura. Kami akan menyelenggarakan sendiri walaupun Gubernur Jatim membekukannya, kata Moh Zahid.
Ia juga meminta, pemerintah tidak perlu mengatur soal kebudayaan karapan sapi ini, dan membiarkan masyarakat yang menyelenggarkan sendiri. Dan jika pemerintah mau mengatur karapan sapi di Madura.
Seharusnya biayanya juga dipikirkan oleh Pemerintah, selama pemerintah ini hanya bicara soal karapan, sementara pemerintah tidak pernah memberikan subsidi kepada pengerap, Ini kan lucu, tegasnya.(Does)
