MEDIA WARTA JATIM

PERHATIAN !. MEDIA WARTA JATIM . Kami hanya mengeluarkan pres card yang ditandatangani oleh Pemimpin Umum/Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi Bambang.WS Siapapun juga dan apapun alasannya, bila ada oknum yang mengaku dari Jatimnet Siber Media, dan nama serta fotonya tidak ada di halaman ini apa yang dilakukan adalah diluar tanggung jawab kami mohon dilaporkan ke kepolisian terdekat sebagai tindak kejahatan dalam bentuk penipuan. untuk konfirmasi tentng anggota kami, HANYA Melalui SMS/WA No : 085233688886

DARI REDAKSI

PERHATIAN !. Jika anda didatangi wartawan dan atau reporter dari Media WARTA JATIM . Tanyakan kartu identitasnya dan cek fotonya pada website kami ini. Untuk keterangan lengkap Hubungi Pemimpin Umum/Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi Media WATRA JATIM, lewat SMS/WA ke no ponsel 085233688886

INFORMASI TERKINI

Kamis, 22 Maret 2018

Tanamkan Budaya Riset Pada Dosen


MAKANG | Jatimnet- “Saya selalu menginstruksikan dan juga tidak ikut campur biar mereka fer menjalankan tugasnya sebagai Mendikti hingga ke penyelesaiannya. Dan ada 4 program dalam menjalankan sebagai Rektor Universitas Brawijaya yang baru apabila terpilih lagi. Untuk yang pertama program tersebut adalah merenovasi peningkatan birokrasi yang ada di Universitas Brawijaya secara keseluruhan. Peningkatan dan pemanfaatan a UB. Peningkatan akademik. Dan yang keempat budaya riset pada dosen-dosen. Sementara untuk budaya mengajar bagi dosen itu sudah biasa, maka kita tingkatkan nantinya ada budaya riset untuk dosen. Agar dosen setelah mengajar lalu ke laboratorium. Karena mengajar saja tidak ada ubahnya seperti guru SMA, maka dari budaya riset yang saya dorongkan bisa tertanamkan pada dosen di semua fakultas yang ada di Universitas Brawijaya.” kata Rektor Universitas Brawijaya Prof. Dr. M. Bisri, M.S.

Riset Herbal jadi pesaing perguruan tinggi negara lain. “Budaya riset terlaksana agar semua laboratorium terpenuhi. Jadi nanti kita siapkan yang lebih modern walau keuangan tertatih-tatih karena lab itu alatnya cukup mahal. Maka kita harus orientasi ke sana agar fasilitas yang ada kita penuhi maka dari itu lab harus bagus alatnya juga harus bagus, akan tetapi kalau dosennya malas apa gunanya. Maka dari itu kita dorong, kalau mengajar sudah bagus, budaya risetlah yang harus dilaksanakan. Karena lab itu sendiri dibawah fakultas bukan dibawah rektorat. Perlu di support dana seperti dana kemarin sebesar 24 M pada tahun ini. Kita menangani laboratorium-laboratorium di luar kampus seperti di Desa Jatikerto, Cangar, Sumberpasir, Sumbersekar, jadi uang rektorat digelontorkan ke pihak fakultas maka fakultaslah yang nanti mengerjakan, kita kalah bersaing dengan negara lain kalau lab kita seperti ini. Untuk yang lainnya semua bisa, tapi lab ini sangat perlu karena untuk membangun budaya riset. Sementara ini kita punya 15 fakultas, kalau mau bersaing dengan perguruan tinggi negara lain maka kita harus punya riset yang ampuh. Bisa dikatakan riset ala Indonesia yaitu riset tentang herbal. Kita kan punya jamu-jamu, apalagi kita sudah membangun pabrik mini di wilayah Kecamatan Karangploso Desa Ngijo, kalau gudang sudah selesai, maka tinggal isinya dan perlu diketahui isinya tidak murah, kalau kita bicara lab uang itu tak ada harganya.” ungkap Bisri.

Rektorat gelontorkan dana kurang lebih 25 M untuk kemajuan laboratorium. “Pemerintahan pusat saat ini sudah menganggarkan pembangunan yang dibutuhkan oleh Perguruan Tinggi Negeri, untuk Brawijaya yang berhubungan dengan kebutuhan laboratorium maka Brawijaya berjuang sendiri, harus ada kerjasama dengan luar terutama mencari terobosan untuk membangun yang modern. Sementara dana dari PNPB kita 25 M untuk mendorong kemajuan lab maka dengan kemampuan anggaran 25 M  dari rektorat, sementara untuk pengajuannya 27 M maka perlu adanya tahapan untuk berikutnya. Karena kita hanya mendorong fakultas akan tetapi fakultas harus menyisihkan anggarannya, untuk kali ini kita bangun 100 lab karena masing-masing fakultas wajib punya lab. Sementara yang bisa tercover hanya 30 lab. Dengan tujuan agar bisa cepat maju. Maka disinilah kelemahan Indonesia dalam bersaing dengan perguruan tinggi negara lain. Untuk perputaran uang yang ada di Brawijaya dalam 1 tahun kurang lebih 900 M. Sementara gaji pegawai 400 M. Maka dengan salah satu syarat untuk bersaing dengan bersaing dengan perguruan tinggi lain maka budaya riset nanti kita tonjolkan.” Kata Prof. Bisri.

Aku kurang opo? Masih kata Prof. Bisri “Dan saya yakin semua calon dari Rektor Universitas Brawijaya yang sudah seleksi kemarin tidak akan menonjolkan budaya riset, semua hanya normatif, hanya itu, itu dan itu. Ya karena semua sudah saya kerjakan. Lalu apa ndak saya kerjakan dan saya pingin ada fokus termasuk 4 program yang saya canangkan. Dan itu sudah berjalan semua lalu kurang opo aku nyambut gaweku. Pada saat pemilihan suara saya cuma mendapatkan 77, lalu ono opo? Saya sendiri tidak dari apa-apa, sebenarnya saya ingin jadi dosen biasa, semua hidup biasa aja.” (sai)

Read more...

BERITA SEBELUMNYA