MEDIA WARTA JATIM

PERHATIAN !. MEDIA WARTA JATIM . Kami hanya mengeluarkan pres card yang ditandatangani oleh Pemimpin Umum/Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi Bambang.WS Siapapun juga dan apapun alasannya, bila ada oknum yang mengaku dari Jatimnet Siber Media, dan nama serta fotonya tidak ada di halaman ini apa yang dilakukan adalah diluar tanggung jawab kami mohon dilaporkan ke kepolisian terdekat sebagai tindak kejahatan dalam bentuk penipuan. untuk konfirmasi tentng anggota kami, HANYA Melalui SMS/WA No : 085233688886

DARI REDAKSI

PERHATIAN !. Jika anda didatangi wartawan dan atau reporter dari Media WARTA JATIM . Tanyakan kartu identitasnya dan cek fotonya pada website kami ini. Untuk keterangan lengkap Hubungi Pemimpin Umum/Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi Media WATRA JATIM, lewat SMS/WA ke no ponsel 085233688886

INFORMASI TERKINI

Rabu, 25 September 2013

Kerapan Sapi Cara Rekeng Tetap Akan di Gelar

         
Untuk Melestarikan Budaya Madura
Pamekasan | Jatimnet – Karapan sapi dengan menggunakan cara rekeng, tetap akan digelar paguyuban Pengerap di Pulau Madura, meskipun telah dilarang oleh gubernur Jawa Timur.   
    Ketua Paguyuban pemilik sapi karapan Madura yang tergabung dalam Jet Matic Foundation (JMF), Mohammad Zahid mengatakan, pihaknya akan tetap menyelenggarakan karapan sapi rekeng, sebab hal itu sudah disepakati oleh seluruh pemilik sapi karapan (Pangerap) se Madura.
    “Kami akan menyelenggarakan sendiri walaupun Gubernur Jatim membekukannya,” kata Moh Zahid.
    Dijelaskan, saat ini, seleksi karapan sapi di masing-masing kecamatan sudah berlangsung dan tinggal menunggu seleksi di tingkat kabupaten.
Sebaiknya pemerintah tidak perlu mengatur soal kebudayaan karapan sapi ini, biarlah masyarakat yang menyelenggarkan sendiri,” ulasnya.
    Lebih lanjut ia mengatakan, jika pemerintah mau mengatur karapan sapi di Madura, seharusnya biayanya juga dipikirkan oleh Pemerintah.
    “Pemerintah, selama ini hanya bicara soal karapan, sementara pemerintah tidak pernah memberikan subsidi kepada pengerap, Ini kan lucu,”tegasnya. Kami juga meminta, jika Gubernur ataupun Presiden akan membahas dan mengatur karapan sapi, seharusnya turun kebawah, dan berdiskusi dengan pengerap langsung, tidak hanya mendengarkan dari Bakorwil IV Madura.
    Sedangkan Kepala Bakorwilnya sendiri gak pernah ada tempat dan tidak pernah mengajak berdiskusi menurut kami kenapa kerapan sapi ini kok dipersoalkan ini kan budaya Madura yang sudah turun menurun, kok sekarang muncul fatwah  sapi tidak boleh disakiti/direkeng masalanya sekarang kerapan sapi udah dicampur adukan dengan politik yang tidak jelas yang hanya mementingkan golongan pungkas Zahit dengan lantang (does)

Read more...

BERITA SEBELUMNYA