Siaga 'SOS' Hadapi Bencana Alam
Tulungagung | Jatimnet - Tulungagung, ada yang 'memelesetkan' artinya, yaitu Tulung dan Agung yang bermakna menolong secara besar (besar-besaran). Hal itu bisa terjadi juga untuk kondisi Tulungagung saat ini.Pada tiap musim hujan tiba, akan terjadi bencana alam yang menyertai, hal itu karena kerusakan alam di Tulungagung kondisinya tidak berkurah dan sebaliknya semakin parah, khususnya tanah longsor dan jebolnya tanggul di sejumlah sungai.
Maraknya pemalakan tanaman kayu hutan dan penambangan pasir sistim sedot telah menjadikan 'bumi' Tulungagung selalu mengibarkan bendera SOS karena nilai kerugian akibat tanah longsor dan banjir bandang semakin menggelembung.
Penjarahan tanaman kayu di hutan, tak sebanding dengan reboisasi, pemotongan tanaman tiap pohon cukup 1 jam dan untuk bisa memperoleh tanaman yang umurnya sama melalui reboisasi butuh waktu ber tahun-tahun.
Selain itu, akibat pemalakan tanaman kayu hutan, kondisi tanahnya semakin riskan dan jika hujan turun dengan curah tinggi akan 'melumat' hamparan tanah gersang larut bersama lajunya air dari bukit menuju dataran rendah.
Sementara itu, penambangan pasir ikut andil memperparah kondisi alam Tulungagung karena dengan penyedotan pasir di sungai menjadikan kondisi keropos tanah tepian sungai. Tak menutup kemungkinan mempengaruhi tempat berpijak 'kaki jembatan' di dasar sungai.
Selain kerusakan alam yang terjadi di Tulungnagung, bencana banjir juga disulut kiriman air dari sungai Brantas yang ada di Kediri yang nasipnya nyaris sama karena jumlah penambang pasir dengan alat mekanik semakin bertambah.
Jika bencana alam terjadi, dari evakuasi hingga rehabilitasi sejumlah sarana umum yang rusak akibat bencana alam mau tak mau harus dilakukan secepat mungkin dan tak bisa ditunda.
Tentu anggaran pemerintah Kabupaten Tulungagung susut karena pengakulasian untuk pemulihan pasca bencana. Namun kebutuhan ketika bencana berlangsung, selain evakuasi juga kebutuhan pangan bagi korban bencana.
Untuk kebutuhan pangan, Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Divre X Tulungagung telah siaga dan menyiapkan sebanyak 100 ton beras untuk menghadapi bencana alam yang selalu datang tiap tahun di Tulungagung.
Ir H Damin Hartono Roestam MSi kepala Bulog Sub Divre X Tulungagung mengatakan “Masing-masing kabupaten kota mempunyai cadangan 100 ton, akan dikeluarkan dengan melalui mekanime permintaan bupati" ujar Damin.
Damin juga menambahkan "Untuk Tulungagung ada stok 100 ton utuk bencana kita siap, khusus untuk bencana alam tidak ada masalah malah kita ada lebih. Ada permintaan dari gubernur pun untuk tanggap darurat kita siap" Sambung Damin.
Hal itu menurutnya karena tergantung pemda, karena leding sektornya dari pemkab sesuai permintaan dari pemkab. Bulog menyiapkan berapapun permintaan pemkab. Cadangan beras pemerintah sudah jelas untuk kabupten kota 100 ton gubernur 200 jadi dihitung hitung 300 ton kami siap ,sudah ada aturan baku”jelasnyanya.
Leih lanjut Damin mengatakan “Bulog Tulungagung, siaga selama 24 jam untuk memberikan bantuan beras kepada korban bencana alam, apabila bantuan tersebut diperlukan sewaktu-waktu.” tuturnya
“Bulog sekarang cuma operator saja, bila ada gejolak harga, bencana komandonya dari pemda setempat, bila dibutuhkan sewaktu waktu kita siap" sambung Damin mensikapi kurang pangan jika terjadi bencana alam.
"Kami akan berkoordinasi dengan Pemkab, dan unit kerja yang berkompeten dalam mendistribusikan bantuan pada saat terjadi bencana alam di Tulungagung” papar Damim.
Kepala daerah bisa mengusulkan tambahan stok beras untuk bencana alam, apabila cadangan beras yang diberikan kepada korban bencana alam sudah habis, terangnya kemusdian.
“Masalah raskin memang kita agak terbatas,stok bulog ada dimana-mana tinggal kapan dimobilisasinya.Persoalannya dijatim stok dalam negerinya terbatas,prinsip di Tulungagung beserta 4 kabupten kota sudah mengajukan tambahan pada Pakdhe Karwo (Gubernur Jatim red). Bila keluar insyaaloh stok raskin untuk januari 2012 mencukupi” pungkasnya.(BAYU