Petani Tembakau Masih Tekor
Tulungagung | Jatimnet Online - Disaat sejumlah warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan air karena musim kemarau,masyarakat di Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung mayoritas petani tembakau justru berharap kemarau berlangsung lebih lama, setidaknya hingga empat bulan ke depan.
“Kalau sampai hujan turun dalam waktu dekat, tanaman tembakau kami bisa rusak.Seperti musim tanam sebelumnya, kami mengalami kerugian besar karena tembakau yang sudah siap panen hancur terendam air hujan,” ujar Sutopo warga Desa Tawing, Kecamatan Boyolangu.
”Untuk harga tembakau hari ini turun dari Rp 80 ribu tiap kilo sekarang menjadi 50 ribu perkilo, pokoknya mana yang membutuhkan, jadi tidak dikirim. Di daerah Tawing semua petani mengandalkan dari bertani tembakau dan polowijo.”tambah Sutopo merupakan satu dari sekian petani tembakau yang menggantungkan hidupnya di di lahan persawahan miliknya.
Jika bukan tembakau, mayoritas petani di daerah ini lebih memilih jenis tanaman palawija.Maklum, di saat kemarau seperti sekarang, menanam padi dianggap sebagai tindakan konyol. Sebab, area persawahan di Desa Tawing maupun desa-desa lain di Kecamatan Boyolangu tergolong sawah tadah hujan. “Lebih dari 90 persen petani di daerah sini menanam tembakau, sisanya palawija. Usia tanaman-tanaman itu rata-rata sekitar 3-4 bulan. Jadi, selama itu pula kami berharap cuaca (musim kering) tetap mendukung, sebab bila turun hujan maka kami akan mengalami kerugian besar, untuk biaya sewa tanahpun tidak bisa kembali” ujar Rusdi, petani tembakau lainnya.
Harapan yang sama dikemukakan sejumlah petani palawija maupun tembakau di beberapa desa kecamatan lain di kawasan Tulungagung selatan. Mereka menyebut dampak guyuran hujan pada tanaman tembakau maupun palawija mereka yang masih muda bisa kehancuran pada tanaman tersebut.
Bencana kekeringan selama kemarau yang sudah berlangsung dua bulan lebih itu sebenarnya juga dirasakan oleh masyarakat Tulungagung yang tinggal di dataran, termasuk di Desa Pelem Kecamatan Campurdarat maupun desa-desa di kecamatan lain sekitarnya.
Akibat kondisi tersebut, banyak warga berharap hujan cepat turun kembali. Namun tak sedikit pula yang lebih suka kemarau berlangsung lebih panjang, setidaknya hingga kisaran bulan November atau Desember nanti, yakni setelah masa panen raya tanaman tembakau dan palawija. (Bayu)
“Kalau sampai hujan turun dalam waktu dekat, tanaman tembakau kami bisa rusak.Seperti musim tanam sebelumnya, kami mengalami kerugian besar karena tembakau yang sudah siap panen hancur terendam air hujan,” ujar Sutopo warga Desa Tawing, Kecamatan Boyolangu.
”Untuk harga tembakau hari ini turun dari Rp 80 ribu tiap kilo sekarang menjadi 50 ribu perkilo, pokoknya mana yang membutuhkan, jadi tidak dikirim. Di daerah Tawing semua petani mengandalkan dari bertani tembakau dan polowijo.”tambah Sutopo merupakan satu dari sekian petani tembakau yang menggantungkan hidupnya di di lahan persawahan miliknya.
Jika bukan tembakau, mayoritas petani di daerah ini lebih memilih jenis tanaman palawija.Maklum, di saat kemarau seperti sekarang, menanam padi dianggap sebagai tindakan konyol. Sebab, area persawahan di Desa Tawing maupun desa-desa lain di Kecamatan Boyolangu tergolong sawah tadah hujan. “Lebih dari 90 persen petani di daerah sini menanam tembakau, sisanya palawija. Usia tanaman-tanaman itu rata-rata sekitar 3-4 bulan. Jadi, selama itu pula kami berharap cuaca (musim kering) tetap mendukung, sebab bila turun hujan maka kami akan mengalami kerugian besar, untuk biaya sewa tanahpun tidak bisa kembali” ujar Rusdi, petani tembakau lainnya.
Harapan yang sama dikemukakan sejumlah petani palawija maupun tembakau di beberapa desa kecamatan lain di kawasan Tulungagung selatan. Mereka menyebut dampak guyuran hujan pada tanaman tembakau maupun palawija mereka yang masih muda bisa kehancuran pada tanaman tersebut.
Bencana kekeringan selama kemarau yang sudah berlangsung dua bulan lebih itu sebenarnya juga dirasakan oleh masyarakat Tulungagung yang tinggal di dataran, termasuk di Desa Pelem Kecamatan Campurdarat maupun desa-desa di kecamatan lain sekitarnya.
Akibat kondisi tersebut, banyak warga berharap hujan cepat turun kembali. Namun tak sedikit pula yang lebih suka kemarau berlangsung lebih panjang, setidaknya hingga kisaran bulan November atau Desember nanti, yakni setelah masa panen raya tanaman tembakau dan palawija. (Bayu)
